Pesta telah di depan mata. Hanya dalam hitungan jam lagi. Esok, 9 Juli 2014 satu langkah perubahan besar akan diukirkan oleh seluruh bangsa ini.
Memilih pemimpin tentu bukan hal yang mudah. Penuh analisa, dan mungkin juga hipotesa. Bahkan jika perlu uji lapangan akan dilakukan.
Memilih pemimpin bukan hal yang mudah. Bukan karena Beliau ini adalah pemegang pucuk tertinggi pemerintahan. Bukan karena Beliau ini adalah panglima tertinggi angkatan perang. Bukan karena Beliau ini adalah cerminan bangsa Indonesia di mata dunia.
Tapi, lebih daripada itu. Memilih pemimpin menjadi hal yang sangat tidak mudah karena di tangan Beliaulah mimpi seluruh bangsa diletakkan. Di pundak Beliaulah cita-cita bangsa disematkan. Dan di dalam jiwa Beliaulah keadilan disemayamkan.
Presiden tidak hanya sebatas jabatan pemerintahan. Presiden tidak hanya sebatas simbol kenegaraan. Tapi Presiden ialah Pemimpin bangsa yang menciptakan kesejahteraan di antara kesenjangan. Presiden ialah pemimpin bangsa yang mengupayakan keadilan di antara banyak keinginan.
Banyak yang mengatakan bahwa Pilpres tahun ini sangat berbeda.
Iya, bagi saya Pilpres tahun ini memang sangat berbeda. Bukan karena calon yang hanya dua. Melainkan karena luka yang menusuk jiwa.
Mungkin terlalu berlebihan rasanya apa yang saya ungkapkan ini, namun inilah yang saya rasakan setelah beberapa bulan belakangan tak dapat saya lihat lagi Indonesia dengan segala kearifannya.
Jauh hari sebelum diadakannya Pilpres, pilihan-pilhan dan spekulasi sudah merebak baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya. Ya, tak dapat ditampik bahwa penggunaan teknologi secara masif adalah bumbu tersendiri dari Pilpres tahun ini.
Banyak yang berharap si "A" menjadi pemimpin, namun tak sedikit pula yang menginginkan Negara ini dipimpin si "B". Hingga akhirnya memang hanya ada dua pasang calon saja yang akan bertarung memenangkan hati dan suara rakyat negeri ini.
Kedua pasang calon pemimpin ini adalah putra terbaik yang dimiliki oleh bangsa ini. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada pribadi masing-masing. Kita tak bisa mengharapkan kesempurnaan dari turunan Adam dan Hawa, karena memang tak ada yang sempurna, tak ada yang terbaik. Yang ada hanya siapa Ia yang paling tepat.
Karena memang hanya dua, maka pilihan yang sebenarnya juga hanya ada dua (golput tidak masuk ke dalam kategori). Dan pemilih juga terbagi menjadi dua kubu. Kubu 1 dan kubu 2.
Masing-masing dari mereka saling membanggakan calon pasangan yang mereka dukung.
Sampai di sini, tidak ada masalah.
Karena inilah Indonesia. Kita memang terlahir berbeda, dan tak akan pernah sama.
Namun luka itu mulai terbuka, ketika perbedaan ini melahirkan sedikit gesekan-gesekan. Dan luka ini semakin menganga ketika gesekan-gesekan itu justru mengarahkan kepada perpecahan.
Tak ada yang salah dengan pilihan. Yang salah adalah kefanatikan, yang dibalut dengan cinta buta dan tak mau dipersalahkan.
Deklarasi dukungan bertebaran di sana-sini. Bukan deklarasinya yang salah. Tapi, jika deklarasi itu hanya menjadi landasan untuk perpecahan buat apa harus ada deklarasi?
Berbulan-bulan Ibu Pertiwi ini dirundung duka. Dan duka itu semakin dalam mengoyak bahkan ketika seharusnya Ibu Pertiwi berbangga, karena putra-putra terbaiknya sudah berbesar hati, dan mengikhlaskan diri untuk berbakti dan mengabdi kepadanya.
Segala macam isu dan fitnah adalah santapan media setiap harinya, adalah konsumsi rakyat setiap waktunya. Bahkan ketika mengharapkan sedikit pencerahan dari media, justru hanya kecewa yang didapat. Karena beberapa media sudah tak se-independen dahulu.
Ketika mencoba melihat diskusi dari narasumber yang pintar dan ahli dibidangnya, lagi-lagi hanya kecewa yang didapat karena beberapa narasumber adalah bagian dari simpatisan.
Dan Ibu Pertiwi bahkan sudah tak dapat membendung rasa sakitnya yang bernanah, ketika anak-anak bangsa ini bertingkah semakin menjadi-jadi. Menyudutkan teman karena berbeda pilihan. Menghujat teman hanya karena berbeda pilihan. Mencaci dan memaki, semuanya hanya karena berbeda pilihan. Dan bahkan menghapus kata teman dan menganggapnya lawan karena berbeda pilihan.
Ada yang memilih karena sikap dan sifatnya. Ada yang memilih karena rekam jejaknya. Ada yang memilih karena orang-orang di belakangnya. Dan mungkin juga, ada yang memilih karena terkena Black/Negative Campaign yang dilancarkan oleh orang-orang yang entah apa motivasinya.
Apa pun yang menjadi dasar pilihannya, tak seharusnya kita saling membenci. Tak seharusnya kita saling menghujat. Tak seharusnya kita saling memfitnah. Karena kita ini satu. Karena kita ini saudara sebangsa dan setanah-air. Karena kita ini adalah komponen penting bagi tetap berlangsungnya kehidupan dan kedaulatan di negeri ini.
Bagi saya pribadi, 1 ataupun 2, beliau-beliau ini adalah pribadi yang baik.
1, tanpa perlu kita ragukan lagi, seorang mantan pasukan yang merelakan jiwa dan raganya untuk bertempur di medan perang demi menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI. Memberikan rasa aman bagi seluruh penduduk negeri. Terlepas dari isu-isu yang melekat pada sosoknya, yang sampai sekarang tak pernah diketahui kebenaran dan kejelasannya. Entah karena memang masalah sebenarnya sudah terselesaikan, atau karena penegakan hukum negara kita yang masih lemah, Beliau tetap putra bangsa dari Ibu Pertiwi.
2, dan tak perlu kita ragukan juga bahwa Beliau adalah sosok yang dianggap sederhana dan merakyat. Kedekatannya dengan rakyat membuat sosok ini mudah dicintai. Kesuksesan memimpin sebagai kepala daerah juga menjadi kelebihannya. Terlepas dari isu yang diutarakan kepadanya, Beliau juga tetap putra bangsa dari Ibu Pertiwi.
Maka sebenarnya 1 ataupun 2 tak ada yang salah.
Maka setelah ini, hanya satu yang saya harapkan. Hentikan perpecahan ini. Hentikan segala fitnah yan keji. Hentikan segala caci dan maki.
Aku, Kamu, Dia, maupun Mereka. Kita sama-sama berspekulasi, mengharapkan bahwa tak akan ada lagi pengulangan masa lalu yang kelam yang pernah menghujani negeri ini.
Aku, Kamu, Dia, maupun Mereka. Kita sama-sama bermimpi. Bermimpi untuk tetap menegakkan kedaulatan, kemerdekaan, dan demokrasi.
Aku, Kamu, Dia, maupun Mereka. Kita sama-sama bermimpi. Bermimpi untuk menjadi bangsa besar di dunia yang disegani.
1 ataupun 2 yang terpilih sebagai pemimpin, sosok penguasa itu ialah kita, rakyat Indonesia. Karena Negara kita adalah Negara yang berkedaulatan Rakyat, di mana kekuasaan tertinggi ada pada rakyat.
1 ataupun 2 yang terpilih, Negara ini tetap Indonesia.
1 ataupun 2 yang terpilih, Idelogi ini tetap Pancasila.
1 ataupun 2 yang terpilih, Konstitusi ini tetap UUD NRI 1945.
1 ataupun 2 yang terpilih, Semboyan ini tetap Bhineka Tunggal Ika. Yang artinya Walaupun berbeda kita tetap satu jua.
Karena 1 ataupun 2 yang terpilih Negara ini tidak akan gemilang tanpa adanya Rakyat. Karena suatu Negara tidak dapat dikatakan sebagai Negara jika unsur-unsur Negara tidak terpenuhi. Dan rakyat adalah salah satu dari unsur-unsur itu.
Karena 1 ataupun 2 yang terpilih, itu tidak menjadi penting lagi jika kita semua bahu-membahu untuk mewujudkan NKRI.
Wujudkan impian itu. Dukung calonmu jika itu yang kalian anggap layak untuk memimpin Negeri dan Bangsa ini. Dukung dengan bentuk partisipasi positif dan aktif bukan dengan dengan sikap skeptis.
Mari kita semua meriahkan pesta esok hari. Usahakan yang terbaik menurut kita, dan biarkan tangan Tuhan bekerja membantu usaha kita semua. Tuhan tahu yang terbaik, dan tak akan mungkin memberikan pilihan yang salah.
~~~
Ini bukan bentuk surat terbuka, kampanye, apalagi konsolidasi. Ini hanya sebatas opini.
Opini dari anak bangsa yang mengharapkan persatuan NKRI.
Opini dari seorang pemilih pemula yang tersesat karena Negative Campaign selama ini.
Opini dari seorang Mahasiswi dengan semangat yang berapi-api.
Banyak yang ingin diutarakan, namun sedikit yang bisa tersampaikan.
Namun, setidaknya ini bisa mewakili perasaan gusar yang beberapa hari ini menghantui.
~~
dari Anak Bangsa, yang lahir dan dibesarkan di sebuah Negeri yang berbeda dari Negeri lainnya.
INDONESIA.