Haloha, kali ini saya hadir membawa sebuah cerpen asli karangan saya. ASLI. Haha. Sebenarnya ini cerpen saya ikutkan dalam kompetisi #CERMIN dari Bentang Pustaka, pada bulan April lalu, dengan tema POLITIK, dan sub tema GOLPUT. Namun, berhubung cerpen ini nggak menang, jadinya saya posting di blog saya pribadi ^^.
Ini ketikan aslinya. Yang saya kirim itu udh editannya, karena satu dari beberapa syarat dr kompetisi itu, nggk blh lbh dr 200 kata
Mohon maaf ya apabila ada yang tersinggung, ini cuma fiktif belaka.
Oke, Check This Out.
~~
Kuhirup secangkir kopi
hangat yang sedari tadi telah ku angguri. Menikmatinya perlahan tetapi pasti.
Ditemani nyanyian pagi para kurcaci negeri ini. Secara samar kuhayati, sajak
sang kurcaci yang mengeluhkan birokrasi.
“Tak ada gunanya kita
memilih, toh mereka pun tak peduli dengan kita. Sejak dulu menjanjikan
perubahan. Tapi nyatanya, ketika kita mulai
meminta pertanggung-jawaban, hanya alibi yang kita dapatkan.”
Semua yang mendengarkan pun serempak meng-Amini.
Demikian juga aku, walaupun dalam hati.
Hampir 69 tahun negeri
ini berdiri. Sudah 16 tahun sejak reformasi. Namun, negeri ini masih berdiam
tak berbenah diri. Ketika KKN sudah menjadi nadi. Mungkin Negara ini sudah tak
punya harapan lagi.
“Benar juga, buat apa
susah-payah menghabiskan waktu hanya untuk memilih para mafia baru?”
“Pak, kopinya satu
gelas lagi ya.” Pesanku kepada sang pemilik warung.
Selang berapa waktu,
seorang Ibu tua renta menghampiriku. “Pak, ini kipasnya tinggal satu. Jika
bapak bersedia, bapak boleh mengambilnya. Hanya lima ribu saja, Pak. Agar saya
bisa segera membelikan susu untuk cucu saya.”
Tanpa pikir panjang, ku
ambil kipas itu, dan kuberikan selembar lima ribu kepada sang Ibu. “Terima
kasih pak.” Jawabnya. Aku hanya tersenyum memandanginya.
“Bapak sudah memilih?”
Tanyanya lagi, yang membuatku sedikit terhenyak.
“Saya tidak akan
memilih, Bu. Percuma.” Ibu itu hanya tersenyum.
“Lalu Ibu sendiri?”
Tanyaku.
“Apa iya mereka
peduli dengan orang kecil seperti saya? Diberi hak pun tidak Pak.” Jawabnya,
kemudian beranjak pergi.
~~
Yaaak, bagaimana?
Kritik dan sarannya blh lh ya? Agar saya tau kesalahan dan kekurangan saya. Sehingga bisa saya perbaiki di karya-karya selanjutnya.
Terima Kasih :)
-aarinarin