Selasa, 21 Juli 2015

Gelap dan Bintang

Baru kali ini kulihat bintang bersinar dengan terang dan jernih.
-Atau mungkin ada baiknya untuk kukoreksi (bukan untuk menganulir) perkataanku.
Malam ini 21 Juli 2015 tepatnya, mataku tak sengaja menatap gemintang di langit sana. Sungguh jernih, seakan tak ada kabut atau asap yang menghalanginya. Berada di bawah langitnya seakan berada di hamparan milky way. Baru kali ini kulihat lagi hamparan gemintang sejernih itu. Setelah mungkin beberapa tahun lalu waktu aku terakhir kali melihat hal serupa.

Kala itu, global warming hanyalah kata asing bagi telinga kecilku. Rinai hujan masih betebaran di langit september hingga awal Februari. Dan tebaran asap masih menggantung di langit Februari hingga September. Bukan seperti saat ini, yang panas dan hujan datang silih berganti. Bertamu dan pergi sesuka hati. Tak ada jejak tak ada ciri.

Dari kecil aku memang suka menatap langit. Duduk, berdiri, bahkan baring di bawah hamparan bintang. Sinarnya terang, jernih. Persis seperti yang kulihat malam ini. Aku menikmati bintang, menyukainya, dan mengagumi-Nya.

Malam adalah satu-satunya waktu untukku menikmati hobi yang murah meriah itu.
Hanya gelap yang menjadi perantaraku untuk mampu memuaskan keinginanku, menghapus dahagaku.

Sebuah kalimat terngiang-ngiang di otakku. "Karena gelaplah bintang mampu bersinar dengan terang". Ntah darimana kalimat itu meluncur dan menari-nari dipikiranku.
Kala itu posisiku, di tengah pepohonan. Mungkin tidak sopan rasanya untuk mengatakan hutan. Sinar malam hanyalah berasal dari bintang. Lampu jalan dan rumah penduduk ibaratnya hanya sebagai ekstra dalam drama ini.

Aku tahu, kalimat ku itu menyalahi aturan ilmu pasti yang sejak SD sudah diajarkan oleh para guru, bahwa bintang memiliki cahayanya sendiri. Karena bintang adalah benda langit yang memancarkan cahayanya sendiri. Ia tak perlu bantuan eksternal untuk bersinar terang.
Ah, dengan segera kurevisi kalimat ku. Bahwa, "Bintang butuh gelap untuk dapat terlihat terang". Semakin gelap maka bintang akan semakin terlihat terang. Seperti malam ini. Penerangan yang minim justru membuat bintang gemintang semakin cantik dan gagah. Di mana di bawahnya aku terpaku, terpana, dan terpukau.

Rabu, 15 April 2015

Takdir

Pernahkan kau merasa ingin berhenti namun, selalu ada hal yang menarikmu untuk tetap berjalan dan maju?
Pernahkah kau merasa ingin menjauh, namun selalu ada hal yang mendekatkanmu?
Itulah takdir.
Ia bekerja secara kontradiktif.
Saat otak meminta untuk berhenti dan hati selalu berkata menjauh, namun akan selalu ada kekuatan gaib yang menarikmu kembali untuk terus berjalan di jalan yang telah ditentukan-Nya.

Seberapa kuat pun kau menentang takdirmu, ia tak akan pernah terkalahkan.
Perlawananmu kepada takdirmu, hanya akan mengarahkanmu kepada satu jawaban bahwa ia adalah Takdir. Tak akan mampu kau tentang, apalagi menang.

Jika pernah mendengar kata bijak yang mengatakan bahwa sebelum terlahir ke dunia ini ada perjanjian yang kita lakukan dengan Sang Pencipta, apabila setuju maka lahirlah seonggok daging itu ke dunia yang penuh dengan cerita, warna, bahagia, bahkan derita. Jika perjanjian yang kita lakukan itu adalah takdir, bagaimana mungkin kita sanggup mengingkarinya?
Mengingkari janji kepada Tuhan tidak semudah melakukan wanprestasi (ingkar janji) seperti di dalam konsep keperdataan. Hanya dengan tidak menjalankan perjanjian itu, atau melaksanakan perjanjian sebagian, atau melaksanakan perjanjian melewati batas waktu yang diperjanjikan, atau melaksanakan namun apa yang dilaksanakan tidak sesuai dengan yang diperjanjikan, maka kita dapat dengan mudah melaksanakan wanprestasi.
Namun, perjanjian dengan Tuhan tidaklah sesederhana itu. Seberapa kuat pun keinginan kita untuk melakukan wanprestasi, maka semakin kuat juga lah keajaiban itu menjaga dan melindungi kita.

Lalu, bagaimana dengan sang Nasib? Apa perannya jika Takdir telah mengambil-alih segala tanggung jawab dalam hidup seseorang?

Tidakkah konsep Nasib ini hanyalah sebuah kamuflase? Jika tak ada satu pun yang terjadi di dunia ini tanpa sepengetahuan Sang Khalik bahkan jatuhnya sehelai daun pun atas kuasanya, lalu bagaimana Takdir dari sang Nasib ini? Apakah Nasib dari seseorang juga sudah ditakdirkan? Bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mau berubah? Lalu, apabila sudah berupaya merubah namun tidak terjadi perubahan, apakah itu takdir? Lalu, apabila seseorang itu takut untuk melakukan perubahan Nasibnya, apakah bisa hal ini disebut takdir?
Ah, agaknya banyak sekali pertanyaan yang lahir dari tulisan ini.

Jika, Nasib telah berupaya melakukan perubahan, namun ada hal yang tetap menghendaki sang Nasib bertahan dan melangkah maju, maka bisakah secara definitif kunyatakan ia adalah takdir?


~~~~

Kamis, 19 Maret 2015

Tanam Sekarang, Tuai Kemudian Hari

Hidup adalah sebuah proses.
Sebuah proses memerlukan waktu.
Waktu untuk membuahkan hasil.
Hasil yang sempurna butuh kerja keras.
Kerja keras harus dibarengi dengan ketekunan.
Ketekunan harus ditemani dengan kesabaran.
Kesabaran harus didasari dari niat yang kuat.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa hidup itu pondasinya adalah niat.

~~~

Halo guys. Sudah bulan ke-3 di 2015. Bagaimana segala angan-angan resolusi yg dibuat di awal tahun kemarin? Sudah ada yg menjalaninya kah? Semoga berhasil ^^.

Sudah berapa paruh waktu yg kita jalani? Sudah berapa benih-benih sukses yg kita tanam? Sudah bisa kah kita petik benih itu sekarang? Atau justru benih itu masih kita simpan? Atau malahan benih sukses itu belum kita temukan sekarang?
Terlambat?
Mungkin iya.

Pohon yang kita tanam di depan rumah itu perlu waktu untuk tumbuh dan berkembang. Perlu waktu untuk tumbuh rindang. Perlu waktu untuk kemudian bisa berdiri kokoh dengan akar-akar tunjang yang mencengkram tanah dengan kuat.
Berapa lama?
1 hari? 1 minggu? 2 bulan? 3 tahun? 1 windu? 2 dasawarsa?

Sesuatu yg sempurna butuh proses panjang. Minyak bumi yg kita nikmati sekarang merupakan hasil dr fosil-fosil ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.
Dunia yg kita lihat sekarang tidak berkembang dalam satu malam.
Manusia yg indah saat ini tidak terjadi akibat dr 1 evolusi.
Karena hidup adalah sebuah proses. Waktu memegang peranan penting dari sebuah proses itu.

Sesuatu yg kita tanam sekarang, mungkin baru bisa tumbuh sempurna beberapa tahun lagi. Bergantung pada seberapa keseriusan kita dalam menjaga dan merawat benih itu.

Pernah saya mendengar kalimat dari seorang. Penulis bernama Tere Liye, dan izinkanlah saya untuk mengutip kalimat tersebut. Semoga saya tidak salah, beliau mengatakan bahwa, waktu yang tepat untuk menanam benih adalah 20 tahun yg lalu. Agar benih itu bisa kita petik sekarang.

Berapa usia kita sekarang? Saya pribadi akan menjawab 18 tahun. Butuh waktu 2 tahun lagi -paling cepat- untuk saya bisa memetik benih yg saya tanam. Namun, permasalahan itu muncul. Benih apa yg sudah saya tanam 18 tahun lalu? Benih apa yg sudah saya rawat dan saya jaga selama 18 tahun itu?
Sulit bagi saya untuk memecahkan permasalahan tersebut.

Terlambat?
Mungkin.

Pernah kita mendengar bahwa, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Maka, kemudian kita memilih opsi kedua. Terlambat tidak mengapa drpd tidak melakukan sama sekali.
Terkadang kita lupa, bahwa waktu memiliki batas terhadap seseorang. Ketika ia sudah lelah menguntai detik demi detiknya, maka ia akan pergi, dan mungkin tak akan kembali. Kesempatan kedua mungkin diberikan. Tapi, hanya kepada orang-orang yg bersungguh-sungguh menggunakannya. Bukan kepada, oknum-oknum yg memanfaatkan keterlambatan itu untuk berlindung dibalik tameng lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Maka ketika waktu sudah mulai lelah, hanya ada satu penyelamat sekaligus penyemangat sang waktu untuk tetap bertahan.
NIAT.
Karena hidup berawal dan berdasar pada niat. Hanya niat yg kuat dan tulus lah yg bisa mengalahkan supremasi sang waktu.

Terlambat?
Mungkin iya. Tapi tak mengapa jika niat yg kita miliki jauh lebih kuat dan jauh lebih banyak dari waktu yg mungkin kita miliki. Karena dari niat yg kuat lah, kesabaran dan ketekunan akan menemukan kepercayaan dirinya. Yg kemudian karenanya, kerja keras menghadapi tantangan dan rintangan hanya lah bumbu penyedap dari proses tersebut. Hanya tinggal menunggu sang waktu bertindak memainkan perannya, kapan kerja keras tersebut akan menciptakan hasil yg sempurna dari proses panjang yang kita lalui.

Maka, hidup lah dengan niat yang kuat. Semakin kuat pondasi suatu bangunan, akan semakin kuat pula bangunan itu. Demikian pula halnya dengan kehidupan.

~~~

Salam,
@aarinarin

Minggu, 04 Januari 2015

2015 BISA APA?

2014 telah pamit undur diri.
Ia berganti, meninggalkan cerita yang terlukis rapi.
Indah sekali.

Sebelum berpanjang lebar memulai kisah kali ini, ada baiknya kita buka dengan mengheningkan cipta atas segala duka yang sepanjang tahun yang lalu telah merundung Negeri ini. Berharap semoga 2015, Indonesia bisa menjadi lebih baik, dan dijauhkan dari segala musibah yang akan mampir untuk rehat sejenak di langit dan tanah air kita ini.

~~~
*Mengheningkan Cipta*
~~~

Move on guys, sekarang udh 2015. Udh bukan saatnya nge-galau-in hal-hal yang itu-itu lagi. Tahun berganti baru, itu artinya masalah yang mungkin akan kita hadapi juga berganti dgn masalah yg baru. Beri kesempatan pada masalah yg baru itu utk berkembang, jgn biarkan dia merasa nggak betah dan cemburu krn kamu msh memikirkan masalah yg lalu. *ngomong apa sih? =))*

Maksudnya gaes, bkn utk ngebiarkan masalah-masalah itu hanya menjadi sebatas siluet yg menghantui kehidupan kalian dan jadi depresi karenanya. Tapi, jadiin masalah yg akan kalian hadapi itu sebagai cambuk utk memotivasi kalian demi menjalankan hidup di 2015 ini. Dan jadikan mereka juga sebagai target yg akan kalian selesaikan di akhir tahun nanti. Jadi, ketika menyongsong tahun yg baru, target itu udh bisa kalian capai, dan menggantinya dgn masalah yg baru yg biasanya kalian jadikan mereka sebagai resolusi di tahun yg baru. Gitu gaes maksudnya =D

2015 itu kita harus berani, friend. Soalnya denger-denger ni ya. Ini tahunnya buat MEA.
Jelasin dikit mengenai MEA. Merupakan singkatan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN. Yang katanya mulai dr tahun ini kehidupan ekonomi itu bakal lbh bebas lagi gaes. Knp bebas, ya itu sih sbnrnya menurut saya aja sih. Yg jelas, yg satu tahu itu, mulai tahun ini Tenaga Kerja Asing bakal dgn mudah masuk dan bekerja di Indonesia. Di negara-negara ASEAN scr globalnya.
Masa' di tanah sendiri kalian cuma bisa jadi penonton doang? Maka dari itu, udh saatnya kita harus lebih berani mbak-bro. Mksdnya di sini lbh berani utk berinovasi. Klo kata pemerintah itu Ekonomi kreatif. Jgn terlalu berharap utk jadi abdi negara, pelayan masyarakat atau apalah namanya. Kita itu sekarang hrs lbh berani utk ngambil resiko. Jadi usahawan. Biar nanti kalian yg jadi bosnya. Yg jd pegawainya org asing. Klo gitu kan keren, sob. Iya nggak?

Eh, tp bkn mksd saya buat ngasut atau apa lah namanya. Hya sekedar memotivasi aja sih. Agar kita itu bisa lebih siap nerima kenyataan bhw tahun ini udh dimulai MEA. Buat yg masih sekolah, kuliah. Belajar yg benar. Biar nantinya bs jadi tenaga kerja ahli. Bisa membangun Negara ini menjadi lbh baik. Bs kerja di luar Negeri dgn pendapatan yg WAOUW. Yg sedetiknya bs ngasilin berjuta-juta dollar. Klo emang generasi kita bs kyk gitu gaes. Gokil, nggak bisa bayangin gmn makmurnya Indonesia di masa yg akan datang.

Sebenarnya mau ngomong apa sh saya ya? Nggak jelas juga.
Intinya sh cuma mau ngasih semangat aja. Biar readers bs ngambil positifnya. Persiapin diri buat menghadapi masa depan. Krn kita nggak hidup di dunia doraemon. Nggk bakal ada robot kucing yg bakal nyamperin kita buat ngingatin kita utk memperbaiki diri agar nggk nyusahin turunan kita di masa depan. Kita harus bs jd doraemon bg diri kita sendiri. Kita harus bisa sukses sob. Demi masa depan kalian. Demi masa depan keluarga kalian. Demi masa depan keturunan kalian. Dan demi masa depan Indonesia, sob. Ibu pertiwi ini udh pengen banget ngeliat kalian makmur. Beliau nggak minta apa-apa kok. Cukup dgn menjadikan keturunannya di masa depan hidup dengan damai, makmur, aman, damai, sentosa, bahagia, sejahtera, dan menjadi bangsa yg bermartabat. Bkn nggk mgkn kan Negara kita yg tercinta ini bs jadi luar biasa hebatnya, klo perlu ngalahin negara adikuasa saat ini. Saya sh percaya gaes. Maka dari itu, kita perlu menjadi doraemon bg Negara kita. Utk ngerubah si Nobita biar nggk nyusahin masa depan penerusnya.

Udah ah, nggak tau mesti ngomong apa lagi.
Sampai jumpa di postingan selanjutnya ya.

~~~~