Selasa, 21 Juli 2015

Gelap dan Bintang

Baru kali ini kulihat bintang bersinar dengan terang dan jernih.
-Atau mungkin ada baiknya untuk kukoreksi (bukan untuk menganulir) perkataanku.
Malam ini 21 Juli 2015 tepatnya, mataku tak sengaja menatap gemintang di langit sana. Sungguh jernih, seakan tak ada kabut atau asap yang menghalanginya. Berada di bawah langitnya seakan berada di hamparan milky way. Baru kali ini kulihat lagi hamparan gemintang sejernih itu. Setelah mungkin beberapa tahun lalu waktu aku terakhir kali melihat hal serupa.

Kala itu, global warming hanyalah kata asing bagi telinga kecilku. Rinai hujan masih betebaran di langit september hingga awal Februari. Dan tebaran asap masih menggantung di langit Februari hingga September. Bukan seperti saat ini, yang panas dan hujan datang silih berganti. Bertamu dan pergi sesuka hati. Tak ada jejak tak ada ciri.

Dari kecil aku memang suka menatap langit. Duduk, berdiri, bahkan baring di bawah hamparan bintang. Sinarnya terang, jernih. Persis seperti yang kulihat malam ini. Aku menikmati bintang, menyukainya, dan mengagumi-Nya.

Malam adalah satu-satunya waktu untukku menikmati hobi yang murah meriah itu.
Hanya gelap yang menjadi perantaraku untuk mampu memuaskan keinginanku, menghapus dahagaku.

Sebuah kalimat terngiang-ngiang di otakku. "Karena gelaplah bintang mampu bersinar dengan terang". Ntah darimana kalimat itu meluncur dan menari-nari dipikiranku.
Kala itu posisiku, di tengah pepohonan. Mungkin tidak sopan rasanya untuk mengatakan hutan. Sinar malam hanyalah berasal dari bintang. Lampu jalan dan rumah penduduk ibaratnya hanya sebagai ekstra dalam drama ini.

Aku tahu, kalimat ku itu menyalahi aturan ilmu pasti yang sejak SD sudah diajarkan oleh para guru, bahwa bintang memiliki cahayanya sendiri. Karena bintang adalah benda langit yang memancarkan cahayanya sendiri. Ia tak perlu bantuan eksternal untuk bersinar terang.
Ah, dengan segera kurevisi kalimat ku. Bahwa, "Bintang butuh gelap untuk dapat terlihat terang". Semakin gelap maka bintang akan semakin terlihat terang. Seperti malam ini. Penerangan yang minim justru membuat bintang gemintang semakin cantik dan gagah. Di mana di bawahnya aku terpaku, terpana, dan terpukau.

Rabu, 15 April 2015

Takdir

Pernahkan kau merasa ingin berhenti namun, selalu ada hal yang menarikmu untuk tetap berjalan dan maju?
Pernahkah kau merasa ingin menjauh, namun selalu ada hal yang mendekatkanmu?
Itulah takdir.
Ia bekerja secara kontradiktif.
Saat otak meminta untuk berhenti dan hati selalu berkata menjauh, namun akan selalu ada kekuatan gaib yang menarikmu kembali untuk terus berjalan di jalan yang telah ditentukan-Nya.

Seberapa kuat pun kau menentang takdirmu, ia tak akan pernah terkalahkan.
Perlawananmu kepada takdirmu, hanya akan mengarahkanmu kepada satu jawaban bahwa ia adalah Takdir. Tak akan mampu kau tentang, apalagi menang.

Jika pernah mendengar kata bijak yang mengatakan bahwa sebelum terlahir ke dunia ini ada perjanjian yang kita lakukan dengan Sang Pencipta, apabila setuju maka lahirlah seonggok daging itu ke dunia yang penuh dengan cerita, warna, bahagia, bahkan derita. Jika perjanjian yang kita lakukan itu adalah takdir, bagaimana mungkin kita sanggup mengingkarinya?
Mengingkari janji kepada Tuhan tidak semudah melakukan wanprestasi (ingkar janji) seperti di dalam konsep keperdataan. Hanya dengan tidak menjalankan perjanjian itu, atau melaksanakan perjanjian sebagian, atau melaksanakan perjanjian melewati batas waktu yang diperjanjikan, atau melaksanakan namun apa yang dilaksanakan tidak sesuai dengan yang diperjanjikan, maka kita dapat dengan mudah melaksanakan wanprestasi.
Namun, perjanjian dengan Tuhan tidaklah sesederhana itu. Seberapa kuat pun keinginan kita untuk melakukan wanprestasi, maka semakin kuat juga lah keajaiban itu menjaga dan melindungi kita.

Lalu, bagaimana dengan sang Nasib? Apa perannya jika Takdir telah mengambil-alih segala tanggung jawab dalam hidup seseorang?

Tidakkah konsep Nasib ini hanyalah sebuah kamuflase? Jika tak ada satu pun yang terjadi di dunia ini tanpa sepengetahuan Sang Khalik bahkan jatuhnya sehelai daun pun atas kuasanya, lalu bagaimana Takdir dari sang Nasib ini? Apakah Nasib dari seseorang juga sudah ditakdirkan? Bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mau berubah? Lalu, apabila sudah berupaya merubah namun tidak terjadi perubahan, apakah itu takdir? Lalu, apabila seseorang itu takut untuk melakukan perubahan Nasibnya, apakah bisa hal ini disebut takdir?
Ah, agaknya banyak sekali pertanyaan yang lahir dari tulisan ini.

Jika, Nasib telah berupaya melakukan perubahan, namun ada hal yang tetap menghendaki sang Nasib bertahan dan melangkah maju, maka bisakah secara definitif kunyatakan ia adalah takdir?


~~~~

Kamis, 19 Maret 2015

Tanam Sekarang, Tuai Kemudian Hari

Hidup adalah sebuah proses.
Sebuah proses memerlukan waktu.
Waktu untuk membuahkan hasil.
Hasil yang sempurna butuh kerja keras.
Kerja keras harus dibarengi dengan ketekunan.
Ketekunan harus ditemani dengan kesabaran.
Kesabaran harus didasari dari niat yang kuat.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa hidup itu pondasinya adalah niat.

~~~

Halo guys. Sudah bulan ke-3 di 2015. Bagaimana segala angan-angan resolusi yg dibuat di awal tahun kemarin? Sudah ada yg menjalaninya kah? Semoga berhasil ^^.

Sudah berapa paruh waktu yg kita jalani? Sudah berapa benih-benih sukses yg kita tanam? Sudah bisa kah kita petik benih itu sekarang? Atau justru benih itu masih kita simpan? Atau malahan benih sukses itu belum kita temukan sekarang?
Terlambat?
Mungkin iya.

Pohon yang kita tanam di depan rumah itu perlu waktu untuk tumbuh dan berkembang. Perlu waktu untuk tumbuh rindang. Perlu waktu untuk kemudian bisa berdiri kokoh dengan akar-akar tunjang yang mencengkram tanah dengan kuat.
Berapa lama?
1 hari? 1 minggu? 2 bulan? 3 tahun? 1 windu? 2 dasawarsa?

Sesuatu yg sempurna butuh proses panjang. Minyak bumi yg kita nikmati sekarang merupakan hasil dr fosil-fosil ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.
Dunia yg kita lihat sekarang tidak berkembang dalam satu malam.
Manusia yg indah saat ini tidak terjadi akibat dr 1 evolusi.
Karena hidup adalah sebuah proses. Waktu memegang peranan penting dari sebuah proses itu.

Sesuatu yg kita tanam sekarang, mungkin baru bisa tumbuh sempurna beberapa tahun lagi. Bergantung pada seberapa keseriusan kita dalam menjaga dan merawat benih itu.

Pernah saya mendengar kalimat dari seorang. Penulis bernama Tere Liye, dan izinkanlah saya untuk mengutip kalimat tersebut. Semoga saya tidak salah, beliau mengatakan bahwa, waktu yang tepat untuk menanam benih adalah 20 tahun yg lalu. Agar benih itu bisa kita petik sekarang.

Berapa usia kita sekarang? Saya pribadi akan menjawab 18 tahun. Butuh waktu 2 tahun lagi -paling cepat- untuk saya bisa memetik benih yg saya tanam. Namun, permasalahan itu muncul. Benih apa yg sudah saya tanam 18 tahun lalu? Benih apa yg sudah saya rawat dan saya jaga selama 18 tahun itu?
Sulit bagi saya untuk memecahkan permasalahan tersebut.

Terlambat?
Mungkin.

Pernah kita mendengar bahwa, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Maka, kemudian kita memilih opsi kedua. Terlambat tidak mengapa drpd tidak melakukan sama sekali.
Terkadang kita lupa, bahwa waktu memiliki batas terhadap seseorang. Ketika ia sudah lelah menguntai detik demi detiknya, maka ia akan pergi, dan mungkin tak akan kembali. Kesempatan kedua mungkin diberikan. Tapi, hanya kepada orang-orang yg bersungguh-sungguh menggunakannya. Bukan kepada, oknum-oknum yg memanfaatkan keterlambatan itu untuk berlindung dibalik tameng lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Maka ketika waktu sudah mulai lelah, hanya ada satu penyelamat sekaligus penyemangat sang waktu untuk tetap bertahan.
NIAT.
Karena hidup berawal dan berdasar pada niat. Hanya niat yg kuat dan tulus lah yg bisa mengalahkan supremasi sang waktu.

Terlambat?
Mungkin iya. Tapi tak mengapa jika niat yg kita miliki jauh lebih kuat dan jauh lebih banyak dari waktu yg mungkin kita miliki. Karena dari niat yg kuat lah, kesabaran dan ketekunan akan menemukan kepercayaan dirinya. Yg kemudian karenanya, kerja keras menghadapi tantangan dan rintangan hanya lah bumbu penyedap dari proses tersebut. Hanya tinggal menunggu sang waktu bertindak memainkan perannya, kapan kerja keras tersebut akan menciptakan hasil yg sempurna dari proses panjang yang kita lalui.

Maka, hidup lah dengan niat yang kuat. Semakin kuat pondasi suatu bangunan, akan semakin kuat pula bangunan itu. Demikian pula halnya dengan kehidupan.

~~~

Salam,
@aarinarin

Minggu, 04 Januari 2015

2015 BISA APA?

2014 telah pamit undur diri.
Ia berganti, meninggalkan cerita yang terlukis rapi.
Indah sekali.

Sebelum berpanjang lebar memulai kisah kali ini, ada baiknya kita buka dengan mengheningkan cipta atas segala duka yang sepanjang tahun yang lalu telah merundung Negeri ini. Berharap semoga 2015, Indonesia bisa menjadi lebih baik, dan dijauhkan dari segala musibah yang akan mampir untuk rehat sejenak di langit dan tanah air kita ini.

~~~
*Mengheningkan Cipta*
~~~

Move on guys, sekarang udh 2015. Udh bukan saatnya nge-galau-in hal-hal yang itu-itu lagi. Tahun berganti baru, itu artinya masalah yang mungkin akan kita hadapi juga berganti dgn masalah yg baru. Beri kesempatan pada masalah yg baru itu utk berkembang, jgn biarkan dia merasa nggak betah dan cemburu krn kamu msh memikirkan masalah yg lalu. *ngomong apa sih? =))*

Maksudnya gaes, bkn utk ngebiarkan masalah-masalah itu hanya menjadi sebatas siluet yg menghantui kehidupan kalian dan jadi depresi karenanya. Tapi, jadiin masalah yg akan kalian hadapi itu sebagai cambuk utk memotivasi kalian demi menjalankan hidup di 2015 ini. Dan jadikan mereka juga sebagai target yg akan kalian selesaikan di akhir tahun nanti. Jadi, ketika menyongsong tahun yg baru, target itu udh bisa kalian capai, dan menggantinya dgn masalah yg baru yg biasanya kalian jadikan mereka sebagai resolusi di tahun yg baru. Gitu gaes maksudnya =D

2015 itu kita harus berani, friend. Soalnya denger-denger ni ya. Ini tahunnya buat MEA.
Jelasin dikit mengenai MEA. Merupakan singkatan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN. Yang katanya mulai dr tahun ini kehidupan ekonomi itu bakal lbh bebas lagi gaes. Knp bebas, ya itu sih sbnrnya menurut saya aja sih. Yg jelas, yg satu tahu itu, mulai tahun ini Tenaga Kerja Asing bakal dgn mudah masuk dan bekerja di Indonesia. Di negara-negara ASEAN scr globalnya.
Masa' di tanah sendiri kalian cuma bisa jadi penonton doang? Maka dari itu, udh saatnya kita harus lebih berani mbak-bro. Mksdnya di sini lbh berani utk berinovasi. Klo kata pemerintah itu Ekonomi kreatif. Jgn terlalu berharap utk jadi abdi negara, pelayan masyarakat atau apalah namanya. Kita itu sekarang hrs lbh berani utk ngambil resiko. Jadi usahawan. Biar nanti kalian yg jadi bosnya. Yg jd pegawainya org asing. Klo gitu kan keren, sob. Iya nggak?

Eh, tp bkn mksd saya buat ngasut atau apa lah namanya. Hya sekedar memotivasi aja sih. Agar kita itu bisa lebih siap nerima kenyataan bhw tahun ini udh dimulai MEA. Buat yg masih sekolah, kuliah. Belajar yg benar. Biar nantinya bs jadi tenaga kerja ahli. Bisa membangun Negara ini menjadi lbh baik. Bs kerja di luar Negeri dgn pendapatan yg WAOUW. Yg sedetiknya bs ngasilin berjuta-juta dollar. Klo emang generasi kita bs kyk gitu gaes. Gokil, nggak bisa bayangin gmn makmurnya Indonesia di masa yg akan datang.

Sebenarnya mau ngomong apa sh saya ya? Nggak jelas juga.
Intinya sh cuma mau ngasih semangat aja. Biar readers bs ngambil positifnya. Persiapin diri buat menghadapi masa depan. Krn kita nggak hidup di dunia doraemon. Nggk bakal ada robot kucing yg bakal nyamperin kita buat ngingatin kita utk memperbaiki diri agar nggk nyusahin turunan kita di masa depan. Kita harus bs jd doraemon bg diri kita sendiri. Kita harus bisa sukses sob. Demi masa depan kalian. Demi masa depan keluarga kalian. Demi masa depan keturunan kalian. Dan demi masa depan Indonesia, sob. Ibu pertiwi ini udh pengen banget ngeliat kalian makmur. Beliau nggak minta apa-apa kok. Cukup dgn menjadikan keturunannya di masa depan hidup dengan damai, makmur, aman, damai, sentosa, bahagia, sejahtera, dan menjadi bangsa yg bermartabat. Bkn nggk mgkn kan Negara kita yg tercinta ini bs jadi luar biasa hebatnya, klo perlu ngalahin negara adikuasa saat ini. Saya sh percaya gaes. Maka dari itu, kita perlu menjadi doraemon bg Negara kita. Utk ngerubah si Nobita biar nggk nyusahin masa depan penerusnya.

Udah ah, nggak tau mesti ngomong apa lagi.
Sampai jumpa di postingan selanjutnya ya.

~~~~

Senin, 22 Desember 2014

Tentang Lintang

Sadar akan waktu yang sebenarnya tidak mengizinkan, moment yang tidak sesuai, dan tugas yang seharusnya tak terabaikan. Tapi, imaji ini tidak bisa dilawan. Ia meledak-ledak, meronta dan meminta untuk dicurahkan.

Tentang Lintang.

Tak ada yang tak mengetahui cerita tentang 10 anak manusia yang hidup dalam segala keterbatasan yang mereka miliki, mengejar mimpi yang hampir tak mungkin untuk terealisasi. Kala itu hanya semangat yang bisa menjaga mimpi-mimpi mereka. Selebihnya tak ada lagi.
Cerita 10 anak manusia yang harus susah payah, menghadang maut hanya demi cita-cita. Kala itu, sekolah adalah satu-satunya cara yang mereka tahu pasti dapat memenuhi dahaga mereka akan ilmu dan suka cita masa kanak-kanak.

Laskar Pelangi. The most impact story in my world.
Laskar Pelangi, tak hanya sekedar cerita fiksi, namun buatku ia lebih dari sekedar angan-angan ataupun uneg-uneg dari sang penciptanya. Membaca bait demi bait dalam novelnya, justru membuatku semakin menyelami pesan yang dititipkan sang penulis, Andrea Hirata.

Di dalam kisah itu, ada seorang tokoh yang mampu menyihirku. Penderitaannya justru dapat kurasakan dari setiap deskripsi yang dituliskan. LINTANG. Bukan tokoh utama, karna ku tahu sang tokoh utama itu adalah IKAL, sahabat LINTANG.
Tapi, justru ialah tokoh yang memiliki gravitasi yang paling kuat daripada tokoh lainnya, setidaknya itu menurutku.

Darinya aku belajar, bahwa ikhlas adalah kunci segalanya.
Ikhlas, mengikhlaskan kegeniusan yang dimiliki terkubur bersama kerasnya dinding kehidupan.
Ikhlas, mengikhlaskan cita-cita yang mulia, demi tugas yang jauh lebih mulia. Menggantikan peran sang ayah, yang pergi bersama ombak yang tak pernah membawanya kembali.
Ikhlas, mengikhlaskan diri pulang-pergi 80 km, mengayuh sepeda, menerjang bahaya akan buaya yang kapan saja bisa menerkamnya. Hanya demi impian yang kemudian hari harus ia bunuh, demi kehidupan keluarganya.

Ia tak mengapa jikalau hidupnya berakhir tak sesuai dengan impiannya. Setidaknya ia bisa memenuhi wasiat sang ayah untuk tidak menjadi seorang nelayan. Pertemuan setelah puluhan tahun terpisah antara IKAL dan LINTANG adalah bagian, yang tak berlebihan jika dibilang bagian paling memilukan dari rangkaian cerita ini. Tak ada yang lebih mengiris hati dan perasaan saat mengetahui orang yang paling genius di antara kita, sahabat seperjuangan sekaligus guru yang luar biasa pintarnya, orang yang secara tak langsung menjadi alasan kita untuk bertahan dan meraih cita-cita kita, orang yang selalu menjaga api semangat kita, berakhir di sebuah bedeng tua, kelelahan melawan kerasnya kehidupan yang mungkin saja berlaku tidak adil padanya. Dilihat dari sudut mana pun, susah untuk mengatakan bahwa hidup telah adil kepadanya. Tak ada yang lebih menyakitkan saat kita tahu bahwa ia pun meronta-ronta meminta untuk dilepaskan dari keadaan yang menyiksanya. Sungguh menyiksa.

Lintang, seorang tokoh sentral yang tidak saja menjadi semangat buat Ikal, tapi buatku juga.
Perjuangannya, Kegeniusannya, Kerendahan hatinya, Persahabatannya, dan semua kesempurnaan yang ada padanya, secara tidak langsung menjadi pedomanku dalam menjalankan hidup ini.
Membaca kisahnya, menyelami butiran kehidupannya, merenungi nasibnya, tanpa sepatah kata pun yang mampu terucap, hanya genangan di mata saja yang bisa merefleksikannya, menjadi cerminan betapa jatuh cintanya aku kepada tokoh Om Andrea Hirata yang bernama Lintang ini.

Dari kisah ini aku belajar bahwa, kegeniusan itu di mana pun ia ditempatkan, ia akan tetap menjadi kegeniusan.
Kegeniusan itu tercipta bukan untuk mengintimidasi yang lainnya, tapi untuk menyelamatkan.
Bukan kejamnya nasib yang bisa mematahkan semangat belajar kita, ia mungkin bisa merenggut cita-cita, tapi tak akan pernah merenggut semangat belajar yang kita miliki. Semangat memintarkan diri kita hanya bisa patah jika kita sendiri yang mematahkannya, bukan kejamnya nasib.
Semangat dan mimpi itu harus tetap kita jaga, karna dari sanalah kehidupan kita memiliki artinya. Karna seperti halnya mimpi dalam bunga tidur kita yang selalu berusaha menemui paginya, dari sanalah kita selalu berusaha terjaga untuk mencari sang mentari.


~~~~
@aarinarin

Sabtu, 13 Desember 2014

Dreamer's Dagger

Tiba-tiba aja tadi nyanyiin lagu 25 Nabi dan Rasul tapi pakai nada ayat-ayat cinta. Nggak tau juga gmn ceritanya sampai bs aja tu lagu ngiang-ngiang di otak, mendengung-dengung di telinga, trus mulut jd reflek deh mendendangkannya.

Nah, jd lagu itu ada kenangan tersendiri. Nggak ingat persis kapan lagu itu mulai menjadi bagian dari kisah masa lalu. Agak lupa-lupa ingat. Yg jelas ini terjadi antara tahun 2008-2011. Tahun di mana saat itu saya menjadi murid putih biru di salah satu Sekolah Menengah Pertama yang paling the best di Pontianak (setidaknya hal ini bisa dibuktikan dengan berbagai prestasi yg selalu diukir oleh sekolah tsb). Blh bangga sedikit dong sebagai alumni yang pernah ber-almamater sekolah tsb :D

Nah, udah jelaskan kali ini saya akn menceritakan ttg apa?

Yaitu ttg kenangan-kenangan yg pernah ada di masa-masa SMP. 
Walaupun agak sulit memang, utk menceritakannya kembali. Bukan krn saya enggan menceritakannya, tp karna masa itu udh ckp lama buat saya. Ya, kn saya nggak terlalu mampu utk mengingat hal-hal dgn baik. Bkn krn otaknya yg nggk mampu nampung, hya saja karna otak yg udh luar biasa dikasih sm Allah ini jrg saya paksakan utk bekerja sebagai mesin pengingat. Ya begitulah, singkat cerita, saya bukan lah seorang penghapal yg ulung.

Jd, lgsg aja saya cerita ya. Mumpung lg mood. Krn klo ditunda-tunda, ntar berakhir seperti postingan-postingan yg nggk sempat terposting (?), hya menjadi pemain ekstra yg sekedar numpang lewat di pikiran dan niat.

~~~~

Jd, awal kisah ini dimulai pd tahun 2008 dan berakhir di 2011.

Nggak terlalu byk yg saya ingat pd masa itu. Tp setidaknya msh ada lah bbrp memori yg tersimpan rapi dlm hard disk ingatan saya.

Di antaranya ya, lagu ayat-ayat cinta versi 25 Nabi dan Rasul. Jd waktu itu sdg ada acara besar keagamaan, Maulid Nabi (klo nggk slh). Nah, sekolah ngadaiin lomba buat merayakannya. Bisa dibilang semacam vokal grup gitulah, klo nggak akustik. Di situ kelas kami nampil dgn formasi, penyanyi, pemain pianika, gitar, sm apalagi ya lupa. Nah, di lomba itu kami dapat juara. Nggak ingat waktu itu juara berapa. Juara 3 apa juara 2 gt. Yg jls sh bkn juara 1. Trus klo nggk salah dapat hadiah juga. Hadiahnya itu, lupa juga, apa waktu itu. Klo nggk slh tempat sampah, sm apa-apa lagi gitu.
Momen ini kejadiannya klo nggak salah (lagi) pas kelas 9 deh. Udh mau-mau lulus gt.

Trus yg saya ingat lg, selain ikut lomba vocal grup, kelas saya pernah ikut lomba menghias nasi tumpeng, pas ultah sekolah. Nggak menang sih. Tp ckp lah utk ngeramein. Ini momen pas kelas 7 sm klas 9.

O,iya perlu diinformasikan bahwa pd saat SMP ini, kelasnya selalu dirombak. Tp untungnya dr kelas 7 sampai kelas 9, saya selalu ada di kelas D. Ya, bknnya mau sombong ya, tp utk msk kelas D, mmg ada persyaratannya. Oiya, yg dirombak ini hya kls reguler aja, yaitu dr kls D sampai F. Krn utk kls A sampai C, udh jd milik kelas SBI. Walaupun skrg, pemerintah udh ngeluarin aturan bhw nggak ada lg yg namanya SBI. Jd klo sekarang, semua kelasnya reguler semua (Ya mgkn seperti itu, nggk tau jg).

Nah, di SMP ini saya mulai mengenal bahasa Mandarin. Bg saya waktu itu, bhs Mandarin itu nggak sulit-sulit amat, msh sulit English. Eh, tp semua itu berubah saat saya belajar bhs Mandarin di SMA. Duh, Gusti. Ternyata, jauh lbh enak ngomong dn nulis pakai bahasa Indonesia.

Di SMP juga saya mulai suka dan menaruh hati sm yg namanya FISIKA. Pdhl byk yg bilang katanya Fisika itu susah, tp buat saya itu adalah tantangan dn seni dr mempelajari Fisika. Bahkan, sampai sekarang (sudah jd Mahasiswi) saya msh senang sm fisika. Ya walaupun, udh nggak se-intens dahulu. Tp, klo ngomongin Fisika pas SMP, duh, ada satu kejadian yg nggak bakal saya lupain seumur hidup. Dibilang dendam, ya nggak jg sh. Tp sejenis itulah. Kenangan pahit itu nggk akan saya lupain, krn rasa pahitnya itu msh berasa sampai sekarang, klo tb-tb saya keingat kejadian itu. Duh, sebel sh. Tp ya mau gmn lg. Slh saya jg sh. Walaupun sebenarnya saya nggak mau disalahin. Ya biar bagaimanapun jg saya bkn pelaku tunggal atas kesalahan itu. Klo bhs Pidananya itu namanya Turut serta (Deelneming). Tp yaudah sh, udh biar jd masa lalu aja. Nggak ngaruh jg sm hidup saya yg sekarang.
Duh, jd curhat deh.

Masa SMP jg yg mulai menarik minat saya utk mempelajari gitar dan musik. Jd, di sekolah kan ada mata pelajaran yg namanya SBK. Nah, guru SBK nya itu suka ngasih tugas utk ngaransemen musik, secara berkelompok. Nah, dr situ saya mulai tertarik dgn yg namanya musik. Dan dr situ lah saya berangkat utk belajar bermain gitar. Bs dibilang terlambat sh, tp seengaknya lebih baik terlambat drpd tdk sama sekali, seperti kata pepatah lama yg sdh ratusan tahun tak terbantah. Dn skrg berarti sekitar 4 thn lbh sdh saya belajar gitar. Tp ya gitu, permainan gitar saya masih jauh dr kata bagus. Boro-boro ngarapin sempurna. Enak didengar aja blm tentu. Eh, ini udh nambah main biola lg. Yg satu aja belum kelar, mlh nambah lg. Mana sampai sekarang main biolanya msh sumbang lg, Hiks. Tp nggak apa deh, saya nggak mau patah semangat. Terus belajar biar ntar bs jd musikus handal.
Curhat lagiii....

Apalagi ya yg mau saya ceritain?
Udh byk yg nggak sempurna nih ingatan saya sm masa-masa SMP.

Klo mslh lagu kenangan, mgkn nggak cm lagu ayat-ayat cinta versi 25 Nabi dan Rasul itu aja. Tp msh ada lagu-lagu yg pernah jd tgs aransemen kami, mslnya lagu edelweis, manuk dadali, sm mother how are you today. Trus ada lagu dr Bondan feat 2 black. Trus nggak tau lagi apa.... :D

Moment perpisahan kyknya perlu diceritain jg deh.
Jd, klo nggk slh waktu itu sekolah nyediain 2 opsi. Opsi pertama, ngadain perpisahan tp nggak tour atau opsi kedua tour tp nggak perpisahan. Jd byk yg milih opsi kedua. Jdlah waktu itu kami tour ke pantai pasir panjang, Singkawang. Menurut cerita teman-teman yg ikut (krn saya memilih utk nggak ikut. Krn hati kecil saya berkata utk tinggal. Nggk tau knp. Jd saya lbh nurut sm perasaan saya aja), kelas kami waktu itu pakai bis yg plg bagus dr kelas lainnya. Krn kls kami itu keukeuh, pokoknya biar bagaimanapun jg, kami itu hrs satu bis, nggk blh pisah. Dgn jumlah kami yg begitu byk, ada 30-an lebih, hampir 40, jdlah kami ditempatkan di dalam satu bis yg ckp bsr waktu itu.
Utk cerita yg lbh detailnya saya nggk tau, krn saya nggk ikt sh. Jd cm tau sekilas aja.

O, iya ada yg terlewat utk dijelaskan. Judul posting, Dreamer's Dagger, diambil dr nama atau lbh tepatnya disebut tulisan yg ada di jaket kelas kami. Lbh tepatnya jaket anak-anak kelas 9D. Masalah apakah itu nama kelas kami apa bagaimana, saya nggak tau pasti. Tp curiganya sh itu nama kelas. Hal ini msh jd misteri buat saya, soalnya saya nggak pernah dengar ada deklarasi nama kelas deh.

~~~

Oke, segitu yg bs saya ceritakan mengenai memori-memori masa SMP saya. Ini memori secara global ya, mksdnya kenangan ini adlh kenangan satu kelas, bkn kenangan saya secara pribadi.

Minggu, 17 Agustus 2014

BALADA NEGERI INI - DIRGAHAYU INDONESIA #69

SALAM MERDEKA!!!

16 Agustus 1945.
69 tahun yang lalu, tepat di malam ini, ketegangan terjadi antara golongan tua dan golongan muda. Bahkan ketegangan itu telah berlangsung sejak rakyat Indonesia mengetahui bahwa Jepang telah kalah dalam perang Asia Pasifik, 14 Agustus 1945. Ketegangan semakin memuncak manakala Ahmad Subardjo menggadaikan nyawanya sebagai jaminan apabila Proklamasi kemerdekaan tidak dikumandangkan tanggal 17 Agustus.

Kesibukan terjadi. Diskusi dilaksanakan. Adu argumentasi terus bergulir. Tanpa kenal lelah. Para pendiri negara ini, terus merumuskan teks yang sangat sakral bagi Bangsa Indonesia, yang mana kesakralannya ini masih sangat terasa hingga detik ini.

Hanya 2 paragraf, cuma 2 paragraf. Namun di balik keringkasan teks itu, terdapat perjuangan yang sangat amat kompleks, rumit, massif, dan pengorbanan tentunya.

Hanya 2 paragraf, cuma 2 paragraf. Namun, sudah lebih dari cukup untuk menghapus dahaga akan hausnya kemerdekaan, kebebasan, dan kedamaian.

Bagaikan air zam-zam di hamparan padang pasir, teks 2 paragraf itu nyata adanya. Bukan fatamorgana dari fisik yang lelah. Ia muncul laksana mata air setelah lebih dari 3 abad kemarau tak berkesudahan melanda Ibu Pertiwi.

Mata air itu tidak muncul dengan sendirinya, Tuan. Kamilah yang menggalinya hingga ke dalam perut bumi. Keringat bercucuran, darah bersimbahan. Tapi kami tak gentar. Tekad kami untuk mengakhiri dahaga ini jauh lebih besar. Kami tak ingin mewarisi kekeringan ini kepada anak-cucu kami. Biarlah kami berjuang untuk terus menggali mata air ini. Hingga saat itu tiba, maka mata air ini akan menenggelamkan kalian, manusia yang haus kekayaan.

Selamat Ulang Tahun Negaraku.
Surga bagi anak-anak Ibu Pertiwi itu kini telah berusia 69 Tahun. Walaupun ku tahu, usiamu lebih dari itu. 

Indonesia adalah negara yang sangat mahal harganya. Bahkan jika seluruh uang, tabungan, deposito, dan segala macam harta benda orang-orang kaya di dunia ini dikumpulkan, itu tak kan cukup untuk membeli negara ini. Bukan karena Indonesia kaya akan sumber daya. Bukan karena Indonesia kaya akan tenaga manusia. Bukan karena Indonesia kaya akan wilayah, budaya, dan lain sebagainya. Tapi karena kami, Anak-anak Bangsa, TAK AKAN PERNAH MENJUAL NEGARA INI.

Kami tak pernah rela untuk menukar setetes pun darah para pahlawan negeri ini dengan segudang harta benda yang kalian miliki. Tak sudi kami mengkhianati pengorbanan dan air mata para pahlawan kami. Tahukah kalian, pahlawan-pahlawan kami tidak lahir begitu saja. Mereka lahir dari proses yang begitu panjang, di sebuah ruang yang penuh dengan tekanan tinggi. Tak peduli seberapa tingginya tekanan itu, bahkan ketika tekanan itu mencabuti kulit mereka satu-persatu.

Terlalu banyak kenangan terlukiskan di kanvas yang membentang sepanjang sabang hingga merauke. Tahukah kau Tuan, kami tidak melukisnya dengan cat ataupun tinta, kami tidak melukisnya dengan kuas. Tapi kami melukisnya dengan tangan kami sendiri dari darah dan air mata para pahlawan negeri ini.

Sudah cukup kalian menjajah kami, mengeksploitasi kami lebih dari 3 abad lamanya. Kami sudah sangat dewasa untuk menentukan nasib kami sendiri. Mengolah sumber daya yang ada di langit, air, dan bumi kami. Tapi tenang Tuan, kami bangsa yang terdiri dari manusia yang berhati manusia. Atas nama kemanusiaan, kami tak segan untuk membagi kekayaan dan keluhuran kami.

Jika saat ini kalian membaca berita tentang lubang di negeri kami, atau bahkan mungkin kalian melihat sendiri lubang itu, bukan berarti kami mempersilakan kalian masuk mengendap-endap laksana tamu yang tak diundang. Pintu kami selalu terbuka untuk siapa saja yang beritikad baik. Namun, jika kalian terus memaksa untuk melewati lubang itu, maka bersiaplah untuk menghadapi kekuatan yang telah lama tertidur.

~~~


Telah 69 tahun Ibu Pertiwi menjelma, menyatukan jiwa dan raganya ke dalam satu wadah yang disebut NEGARA. 69 Tahun ia mengasihi kita, menyayangi kita, melindungi kita. Hanya memberi tak harap kembali, laksana Kasih Ibu di dalam lagunya. Namun sebagai anaknya apakah yang sudah kita berikan kepada Negeri ini? Bukankah ini momen yang tepat jikalau kita bisa mengahadiahkannya dengan prestasi kita, dengan karya kita? Tapi, walaupun kita masih belum sanggup menghadiahi Ibu Pertiwi, setidaknya membuat Ia tidak menitikkan air mata kesedihan, itu sungguh sudah luar biasa.

Tapi, apakah kita sudah melakukannya?

Kita terlalu terlena dan terbuai dengan situasi saat ini. Sedikit saja nyala api dipercikkan, maka dengan cepat api itu menjalar, membakar dan mematikan pikiran dan kearifan kita tanpa pernah kita sadari.

Jiwa Pancasila, sudah mulai sedikit demi sedikit terkikis dari qalbu kita. Semboyan Bhineka Tunggal Ika sudah mulai pudar dari darah kita. Hukum? Jangan kau tanyakan, ia masih bersembunyi di dalam hati setiap orang.

Hanya sedikit dari banyaknya rakyat Indonesia yang masih menjunjung itu semua. Menempatkannya sebagai prioritas utama dalam setiap tindakan. Sedikit kawan, hanya sedikit sekali.

Lalu kemana sisanya yang banyak itu?
Sisanya yang banyak itu, masih tertidur lelap dengan catatan-catatan yang masih digenggam di tangan. Kau mau tahu apa isi catatan itu kawan? Tak ubahnya peta harta karun, di sana tertulis denah-denah petunjuk harta itu disimpan. Hanya tinggal menunggu waktu kapan denah-denah itu bisa dikunjungi dan dikeruk hartanya tanpa sisa.

Indonesia adalah negara kaya. Ya, sangat kaya. Tapi tak ada satu ekonom pun yang dapat menjamin kekayaan itu, apabila jatuh dan diolah oleh tangan-tangan yang rakus.

Tiga setengah abad dieksploitasi oleh bangsa asing, dan sekarang harus menerima kenyataan digerogoti oleh bangsa sendiri. Bukan demi kesejahteraan masyarakat, melainkan demi kepentingan pribadi. Oh, atau hanya saya yang terlupa bahwa ia dan keluarganya juga bagian dari rakyat itu.

69 Tahun merdeka, 16 Tahun reformasi. Kita masih butuh perbaikan di sana-sini. Menampali lubang-lubang yang bisa saja menggoda tamu yang tak diundang itu untuk datang.

69 Tahun merdeka, 16 Tahun reformasi. Terima kasih telah mengizinkan kami untuk mengambil harta kekayaan Negeri ini.

69 Tahun merdeka, 16 Tahun reformasi. Rasa cinta dan bangga ini tak akan pernah berkurang, tak akan pernah menguap, walau hanya setitik. Tak kan pernah.

Ini Indonesia ku. Ini Bangsaku. Ini tanahku. Aku mencintaimu setulus kau mengasihi ku.
Dirgahayu Republikku.

---------

Tidak bermaksud menyinggung apalagi memecah-belah. Hanya curahan pikiran dari anak bangsa yang masih ingusan, dan tidak mengerti apa-apa. Ajari aku hingga aku bisa berbuat sesuatu untuk bangsa dan Negara di Republik tercinta, Indonesia.


-SALAM MERDEKA!!!
@aarinarin