Haiho readers sebulan sudah kita tak bersua.
Ada yang kangen?
Pasti nggak deh :(
Hahaha.......
Wiiiih judul postingnya garang ya? Sebenarnya sih, iseng aja. Daripada garing nungguin STAND UP COMEDY INDONESIA SEASON 4 malam ini, ya udah deh nulis-nulis aja. Lagian juga udah lama nggak mampir di 'rumah' ini. Hihihi.
~~~
Ujian Nasional bagi siswa/i SMA di Indonesia memang sudah berakhir (yang negeri sih udah kelar kemarin, cuma 3 hari. Klo yang lain saya nggak tahu), dan sebagai alumni yang baik *cieileh* saya juga ikut memantau perkembangan ujian adik-adik saya ini (yang lebih tepatnya disebut teman-teman).
Nah, agak terkejut sih sebenarnya pas liat-liat berita tentang ujian - yang mondar-mandir di twitter - kebanyakan sih beritanya ttg keluhan peserta ujian terhadap soal-soal yang katanya berstandar Internasional itu. Begitu mendengar kata Berstandar Internasional yang ada di bayangan saya itu soal-soal yang 11:12 dgn soal olimpiade. Ya, tapi setidaknya klo soal Olimpiade nggak ada angkanya (utk yg hitungan) di UN masih disertai angka.
Berbagai tanggapan pun mengalir dan kebanyakan dari para peserta Ujian. Saya juga sempat liat gitu di twitter, banyak peserta ujian yg justru berani nge-mention Menteri Pendidikan utk mengeluarkan unek-unek nya. Wiiih hebat. Saya aja nggk berani, makanya saya hanya beropini di blog ini. Hehehe.
Klo diliat-liat memang pelaksanaan UN ini sering terjadi beberapa kendala, seperti misalnya keterlambatan pendistribusian, naskah soal yg kurang lengkap, kualitas kertas, serta sistem yang senantiasa berubah. Dan itu benar-benar terasa di tahun angkatan saya. Pelaksanaan Ujian yg tdk serempak, kualitas kertas yg krg bagus, dn utk PERTAMA KALINYA ujian nasional menggunakan 20 paket dan BARCODE. Ya walaupun masih ada untungnya karena standar soalnya bisa-biasa aja. Nggk standar Internasional.
Dari situ, saya teramat bersyukur karena Alhamdulillahnya saya mengikuti Ujian Nasional di tahun 2013. Yang sejatinya harus Saya ikuti di tahun ini (2014). Dalam hati saya berkata, "Ada untungnya ikut CI". Uyeeeee Yipppie \m/.
Ngomongin sistem yang berubah, angkatan saya (2013 maupun 2014) memang angkatan yg menjadi pelopor perubahan sistem dalam UN. Saat SD (tahun 2008) Angkatan saya pertama kalinya melaksanakan UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional) walaupun saat itu kelulusan masih ditentukan oleh Sekolah. Selanjutnya saat SMP (tahun 2011) Angkatan saya utk pertama kalinya melaksanakan ujian dgn 5 paket dan dgn sistem 40% 60%. Ini menurut saya sih bagus, karena nilai sekolah pun msh jd penentu utk kelulusan. Dan saat SMA (tahun 2013) Angkatan saya yg sdh saya bilang di atas ujian 20 paket menggunakan barcode. Dan tahun ini Angkatan 2014, teman-teman saya melaksanakan ujian 20 paket menggunakan barcode, dgn soal berstandar Internasional.
Dan ditambah lagi tahun ini adalah tahun politik, yg menurut saya, hal sekecil apapun sgtlah sensitif apalagi yg menyinggung politik. Dan semoga pendidikan kita tdk terkena dampak politisasi,
Hmmm....
Selain itu hampir setiap tahun, ada aja berita yg mengungkapkan sebaiknya Ujian Nasional itu ditiadakan, karena... bla bla bla.
Nah, ini opini saya pribadi sih. UJIAN ITU BAGAIMANA PUN HARUS ADA. Karena kesel aja klo liat adik-adik kelas nggk ada ujian, iri gitu. Hahaha. Nggak deh ini bercanda.
Ujian harus ada karena utk kenaikan kelas atau tingkat kita memang memerlukan ujian. Nggak usah jauh-jauh deh, dalam kehidupan kita pribadi aja, pasti kita senantiasa diberikan ujian kan oleh Yang Maha Kuasa? Tujuannya utk apa coba? Ya, semua itu dilakukan utk kenaikan kelas kehidupan kita. Apakah kita sudah pantas atau belum utk melangkah ke tahap kehidupan selanjutnya. Logikanya ya, klo dalam hidup aja kita perlu diuji, apalagi dalam persoalan pendidikan. Para pengevaluasi (dalam hal ini guru, pemerintah, dll yang berhubungan dgn pendidikan) perlu mengetahui sebatas mana kita sudah memahami segala pelajaran yg sdh diberikan. Hingga nanti saat masanya tiba kita bs mengaplikasikan ilmu-ilmu itu utk kemaslahatan umat.
Terlebih saat ini kita memasuki yang namanya Zaman Globalisasi, klo kita kalah saing ya udah deh, selamanya kita nggak akan pernah memimpin dunia ini. Emangnya mau lihat Indonesia 'dijajah' lagi? Ya, walaupun penjajahannya bkn secara fisik tp secara IPTEK. Jadi mgkn maksud pemerintah utk menerapkan soal berstandar Internasional, ya karena alasan itu. Mgkn dgn selalu adanya inovasi-inovasi terbaru mengenai standar dan sistem ujian Indonesia semakin tahun semakin memiliki bibit-bibit yg dapat membangun Indonesia ke arah yg lbh baik. INGAT KAWAN, PERUBAHAN INDONESIA ADA DI TANGAN KITA, PARA PEMUDA-PEMUDI BANGSA.
Apakah UN ini salah?
Nggak, UN nggak salah.
Mungkin para siswa dan guru-guru serta sekolah mereka yg salah?
Tidak, mereka tidak salah.
Lalu, apakah pemerintah yg salah?
Pemerintah tidak salah, mereka jg ingin memberikan yg terbaik.
Kemudian, siapa yg salah?
Selama ini saya selalu berfikir bahwa mungkin sistem dan teknisnya yg salah *ini hanya opini saja*. Sehingga saya berkesimpulan bahwa hampir sebagian besar penentu kelulusan itu adalah sistem dn teknis yg digunakan. Di mana cara menjawab dibuat sedemikian rupa, jika terjadi kesalahan dlm membulatkan dan menghitamkan jawaban, maka jawaban tdk terbaca scanner. Walaupun apabila memang terjadi hal seperti itu maka LJK akn dikoreksi scr manual. Apalagi skrg ditambah dgn sistem barcode.
Saya termasuk org yg tdk mengambil pusing dgn berapapun jmlh paket yg diberikan. 2, 5, 20. Karena bagi saya itu tdk berpengaruh. Namun, ada yg saya takutkan apabila variasi paket yg ckp bnyk itu membuat kesalahan pd saat pengoreksian. Namun, setelah tahun saya berhasil menyelenggarakan ujian 20 paket, hal ini (mgkn) tdk terbukti, dgn kata lain aman-aman saja.
Selain sistem ada lagi yg mgkn menjadi permasalahan dlm penyelenggaraan UN ini. Kita semua tahu bahwa kualitas pendidikan di Indonesia ini memang blm merata. Jgnkan membandingkan pendidikan antara Sekolah di kota dgn sekolah di desa. Bahkan sesama sekolah di suatu kota saja bisa jadi kualitasnya berbeda. Nah, ini dia yg sebenarnya membuat UN itu menjadi sulit utk dilaksanakan.
Namun, apapun yg terjadi. Doa saya utk angkatan 2014 ini bs lulus 100%. Masalah nilai itu persoalan kedua. Karena - tidak bosan-bosan saya ingatkan bahwa- NILAI KUANTITAS TIDAKLAH MENJAMIN NILAI KUALITAS ORANG TERSEBUT. Maka kejarlah nilai kualitas pribadi kalian setinggi-tingginya. Mengutip kata-katanya Iqbaal personel CJR bahwa "JUJUR TETAP LEBIH BAIK #GOBETTER"
~~
Baiklah, karena jam sdh menunjukkan hampir pukul 22.00 WIB. Itu artinya sudah saatnya menyalakan televisi. Melihat hiburan berkualitas, yang sarat akan pesan moral. Apalagi kalo bukan STAND UP COMEDY INDONESIA KOMPAS TV. Salah satu acara talent show serta acara hiburan favorit saya bgt. Karena penilaian murni dari juri, serta hiburannya jg berkelas.
Ok, pamit undur diri dulu ya. Sampai jumpa di postingan lainnya.
Ini hanya opini saja, nggak lebih. Nggak ada maksud utk menjelek-jelekkan pihak-pihak tertentu apalagi berpihak pada pihak-pihak tertentu. Di sini saya sdh berusah netral. Klo pun media opini saya salah, mohon dimaafkan.
SEMANGAT LASKAR UN 2014 KALIAN PASTI BISA.
~~
Salam
@aarinarin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar