Rabu, 14 Mei 2014

Balada Warung Kopi

Haloha, kali ini saya hadir membawa sebuah cerpen asli karangan saya. ASLI. Haha. Sebenarnya ini cerpen saya ikutkan dalam kompetisi #CERMIN dari Bentang Pustaka, pada bulan April lalu, dengan tema POLITIK, dan sub tema GOLPUT. Namun, berhubung cerpen ini nggak menang, jadinya saya posting di blog saya pribadi ^^.
Ini ketikan aslinya. Yang saya kirim itu udh editannya, karena satu dari beberapa syarat dr kompetisi itu, nggk blh lbh dr 200 kata
Mohon maaf ya apabila ada yang tersinggung, ini cuma fiktif belaka.

Oke, Check This Out.

~~


Kuhirup secangkir kopi hangat yang sedari tadi telah ku angguri. Menikmatinya perlahan tetapi pasti. Ditemani nyanyian pagi para kurcaci negeri ini. Secara samar kuhayati, sajak sang kurcaci yang mengeluhkan birokrasi.

“Tak ada gunanya kita memilih, toh mereka pun tak peduli dengan kita. Sejak dulu menjanjikan perubahan. Tapi nyatanya, ketika kita mulai meminta pertanggung-jawaban, hanya alibi yang kita dapatkan.”
Semua yang mendengarkan pun serempak meng-Amini. Demikian juga aku, walaupun dalam hati.

Hampir 69 tahun negeri ini berdiri. Sudah 16 tahun sejak reformasi. Namun, negeri ini masih berdiam tak berbenah diri. Ketika KKN sudah menjadi nadi. Mungkin Negara ini sudah tak punya harapan lagi.

“Benar juga, buat apa susah-payah menghabiskan waktu hanya untuk memilih para mafia baru?”
“Pak, kopinya satu gelas lagi ya.” Pesanku kepada sang pemilik warung.

Selang berapa waktu, seorang Ibu tua renta menghampiriku. “Pak, ini kipasnya tinggal satu. Jika bapak bersedia, bapak boleh mengambilnya. Hanya lima ribu saja, Pak. Agar saya bisa segera membelikan susu untuk cucu saya.”

Tanpa pikir panjang, ku ambil kipas itu, dan kuberikan selembar lima ribu kepada sang Ibu. “Terima kasih pak.” Jawabnya. Aku hanya tersenyum memandanginya.

“Bapak sudah memilih?” Tanyanya lagi, yang membuatku sedikit terhenyak.

“Saya tidak akan memilih, Bu. Percuma.” Ibu itu hanya tersenyum.

“Lalu Ibu sendiri?” Tanyaku.

“Apa iya mereka peduli dengan orang kecil seperti saya? Diberi hak pun tidak Pak.” Jawabnya, kemudian beranjak pergi.

Aku diam mematung. Tanpa sepatah kata pun terucap lagi. Hati dan fikiranku berkelahi. Ku lirik jam di arloji. “Masih jam sembilan pagi.” Kemudian aku bergegas pergi.

~~

Yaaak, bagaimana?
Kritik dan sarannya blh lh ya? Agar saya tau kesalahan dan kekurangan saya. Sehingga bisa saya perbaiki di karya-karya selanjutnya.
Terima Kasih :)


-aarinarin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar