SALAM MERDEKA!!!
16 Agustus 1945.
69 tahun yang lalu, tepat di malam ini, ketegangan terjadi antara golongan tua dan golongan muda. Bahkan ketegangan itu telah berlangsung sejak rakyat Indonesia mengetahui bahwa Jepang telah kalah dalam perang Asia Pasifik, 14 Agustus 1945. Ketegangan semakin memuncak manakala Ahmad Subardjo menggadaikan nyawanya sebagai jaminan apabila Proklamasi kemerdekaan tidak dikumandangkan tanggal 17 Agustus.
Kesibukan terjadi. Diskusi dilaksanakan. Adu argumentasi terus bergulir. Tanpa kenal lelah. Para pendiri negara ini, terus merumuskan teks yang sangat sakral bagi Bangsa Indonesia, yang mana kesakralannya ini masih sangat terasa hingga detik ini.
Hanya 2 paragraf, cuma 2 paragraf. Namun di balik keringkasan teks itu, terdapat perjuangan yang sangat amat kompleks, rumit, massif, dan pengorbanan tentunya.
Hanya 2 paragraf, cuma 2 paragraf. Namun, sudah lebih dari cukup untuk menghapus dahaga akan hausnya kemerdekaan, kebebasan, dan kedamaian.
Bagaikan air zam-zam di hamparan padang pasir, teks 2 paragraf itu nyata adanya. Bukan fatamorgana dari fisik yang lelah. Ia muncul laksana mata air setelah lebih dari 3 abad kemarau tak berkesudahan melanda Ibu Pertiwi.
Mata air itu tidak muncul dengan sendirinya, Tuan. Kamilah yang menggalinya hingga ke dalam perut bumi. Keringat bercucuran, darah bersimbahan. Tapi kami tak gentar. Tekad kami untuk mengakhiri dahaga ini jauh lebih besar. Kami tak ingin mewarisi kekeringan ini kepada anak-cucu kami. Biarlah kami berjuang untuk terus menggali mata air ini. Hingga saat itu tiba, maka mata air ini akan menenggelamkan kalian, manusia yang haus kekayaan.
Selamat Ulang Tahun Negaraku.
Surga bagi anak-anak Ibu Pertiwi itu kini telah berusia 69 Tahun. Walaupun ku tahu, usiamu lebih dari itu.
Indonesia adalah negara yang sangat mahal harganya. Bahkan jika seluruh uang, tabungan, deposito, dan segala macam harta benda orang-orang kaya di dunia ini dikumpulkan, itu tak kan cukup untuk membeli negara ini. Bukan karena Indonesia kaya akan sumber daya. Bukan karena Indonesia kaya akan tenaga manusia. Bukan karena Indonesia kaya akan wilayah, budaya, dan lain sebagainya. Tapi karena kami, Anak-anak Bangsa, TAK AKAN PERNAH MENJUAL NEGARA INI.
Kami tak pernah rela untuk menukar setetes pun darah para pahlawan negeri ini dengan segudang harta benda yang kalian miliki. Tak sudi kami mengkhianati pengorbanan dan air mata para pahlawan kami. Tahukah kalian, pahlawan-pahlawan kami tidak lahir begitu saja. Mereka lahir dari proses yang begitu panjang, di sebuah ruang yang penuh dengan tekanan tinggi. Tak peduli seberapa tingginya tekanan itu, bahkan ketika tekanan itu mencabuti kulit mereka satu-persatu.
Terlalu banyak kenangan terlukiskan di kanvas yang membentang sepanjang sabang hingga merauke. Tahukah kau Tuan, kami tidak melukisnya dengan cat ataupun tinta, kami tidak melukisnya dengan kuas. Tapi kami melukisnya dengan tangan kami sendiri dari darah dan air mata para pahlawan negeri ini.
Sudah cukup kalian menjajah kami, mengeksploitasi kami lebih dari 3 abad lamanya. Kami sudah sangat dewasa untuk menentukan nasib kami sendiri. Mengolah sumber daya yang ada di langit, air, dan bumi kami. Tapi tenang Tuan, kami bangsa yang terdiri dari manusia yang berhati manusia. Atas nama kemanusiaan, kami tak segan untuk membagi kekayaan dan keluhuran kami.
Jika saat ini kalian membaca berita tentang lubang di negeri kami, atau bahkan mungkin kalian melihat sendiri lubang itu, bukan berarti kami mempersilakan kalian masuk mengendap-endap laksana tamu yang tak diundang. Pintu kami selalu terbuka untuk siapa saja yang beritikad baik. Namun, jika kalian terus memaksa untuk melewati lubang itu, maka bersiaplah untuk menghadapi kekuatan yang telah lama tertidur.
~~~
Telah 69 tahun Ibu Pertiwi menjelma, menyatukan jiwa dan raganya ke dalam satu wadah yang disebut NEGARA. 69 Tahun ia mengasihi kita, menyayangi kita, melindungi kita. Hanya memberi tak harap kembali, laksana Kasih Ibu di dalam lagunya. Namun sebagai anaknya apakah yang sudah kita berikan kepada Negeri ini? Bukankah ini momen yang tepat jikalau kita bisa mengahadiahkannya dengan prestasi kita, dengan karya kita? Tapi, walaupun kita masih belum sanggup menghadiahi Ibu Pertiwi, setidaknya membuat Ia tidak menitikkan air mata kesedihan, itu sungguh sudah luar biasa.
Tapi, apakah kita sudah melakukannya?
Kita terlalu terlena dan terbuai dengan situasi saat ini. Sedikit saja nyala api dipercikkan, maka dengan cepat api itu menjalar, membakar dan mematikan pikiran dan kearifan kita tanpa pernah kita sadari.
Jiwa Pancasila, sudah mulai sedikit demi sedikit terkikis dari qalbu kita. Semboyan Bhineka Tunggal Ika sudah mulai pudar dari darah kita. Hukum? Jangan kau tanyakan, ia masih bersembunyi di dalam hati setiap orang.
Hanya sedikit dari banyaknya rakyat Indonesia yang masih menjunjung itu semua. Menempatkannya sebagai prioritas utama dalam setiap tindakan. Sedikit kawan, hanya sedikit sekali.
Lalu kemana sisanya yang banyak itu?
Sisanya yang banyak itu, masih tertidur lelap dengan catatan-catatan yang masih digenggam di tangan. Kau mau tahu apa isi catatan itu kawan? Tak ubahnya peta harta karun, di sana tertulis denah-denah petunjuk harta itu disimpan. Hanya tinggal menunggu waktu kapan denah-denah itu bisa dikunjungi dan dikeruk hartanya tanpa sisa.
Indonesia adalah negara kaya. Ya, sangat kaya. Tapi tak ada satu ekonom pun yang dapat menjamin kekayaan itu, apabila jatuh dan diolah oleh tangan-tangan yang rakus.
Tiga setengah abad dieksploitasi oleh bangsa asing, dan sekarang harus menerima kenyataan digerogoti oleh bangsa sendiri. Bukan demi kesejahteraan masyarakat, melainkan demi kepentingan pribadi. Oh, atau hanya saya yang terlupa bahwa ia dan keluarganya juga bagian dari rakyat itu.
69 Tahun merdeka, 16 Tahun reformasi. Kita masih butuh perbaikan di sana-sini. Menampali lubang-lubang yang bisa saja menggoda tamu yang tak diundang itu untuk datang.
69 Tahun merdeka, 16 Tahun reformasi. Terima kasih telah mengizinkan kami untuk mengambil harta kekayaan Negeri ini.
69 Tahun merdeka, 16 Tahun reformasi. Rasa cinta dan bangga ini tak akan pernah berkurang, tak akan pernah menguap, walau hanya setitik. Tak kan pernah.
Ini Indonesia ku. Ini Bangsaku. Ini tanahku. Aku mencintaimu setulus kau mengasihi ku.
Dirgahayu Republikku.
---------
Tidak bermaksud menyinggung apalagi memecah-belah. Hanya curahan pikiran dari anak bangsa yang masih ingusan, dan tidak mengerti apa-apa. Ajari aku hingga aku bisa berbuat sesuatu untuk bangsa dan Negara di Republik tercinta, Indonesia.
-SALAM MERDEKA!!!
@aarinarin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar