Senin, 22 Desember 2014

Tentang Lintang

Sadar akan waktu yang sebenarnya tidak mengizinkan, moment yang tidak sesuai, dan tugas yang seharusnya tak terabaikan. Tapi, imaji ini tidak bisa dilawan. Ia meledak-ledak, meronta dan meminta untuk dicurahkan.

Tentang Lintang.

Tak ada yang tak mengetahui cerita tentang 10 anak manusia yang hidup dalam segala keterbatasan yang mereka miliki, mengejar mimpi yang hampir tak mungkin untuk terealisasi. Kala itu hanya semangat yang bisa menjaga mimpi-mimpi mereka. Selebihnya tak ada lagi.
Cerita 10 anak manusia yang harus susah payah, menghadang maut hanya demi cita-cita. Kala itu, sekolah adalah satu-satunya cara yang mereka tahu pasti dapat memenuhi dahaga mereka akan ilmu dan suka cita masa kanak-kanak.

Laskar Pelangi. The most impact story in my world.
Laskar Pelangi, tak hanya sekedar cerita fiksi, namun buatku ia lebih dari sekedar angan-angan ataupun uneg-uneg dari sang penciptanya. Membaca bait demi bait dalam novelnya, justru membuatku semakin menyelami pesan yang dititipkan sang penulis, Andrea Hirata.

Di dalam kisah itu, ada seorang tokoh yang mampu menyihirku. Penderitaannya justru dapat kurasakan dari setiap deskripsi yang dituliskan. LINTANG. Bukan tokoh utama, karna ku tahu sang tokoh utama itu adalah IKAL, sahabat LINTANG.
Tapi, justru ialah tokoh yang memiliki gravitasi yang paling kuat daripada tokoh lainnya, setidaknya itu menurutku.

Darinya aku belajar, bahwa ikhlas adalah kunci segalanya.
Ikhlas, mengikhlaskan kegeniusan yang dimiliki terkubur bersama kerasnya dinding kehidupan.
Ikhlas, mengikhlaskan cita-cita yang mulia, demi tugas yang jauh lebih mulia. Menggantikan peran sang ayah, yang pergi bersama ombak yang tak pernah membawanya kembali.
Ikhlas, mengikhlaskan diri pulang-pergi 80 km, mengayuh sepeda, menerjang bahaya akan buaya yang kapan saja bisa menerkamnya. Hanya demi impian yang kemudian hari harus ia bunuh, demi kehidupan keluarganya.

Ia tak mengapa jikalau hidupnya berakhir tak sesuai dengan impiannya. Setidaknya ia bisa memenuhi wasiat sang ayah untuk tidak menjadi seorang nelayan. Pertemuan setelah puluhan tahun terpisah antara IKAL dan LINTANG adalah bagian, yang tak berlebihan jika dibilang bagian paling memilukan dari rangkaian cerita ini. Tak ada yang lebih mengiris hati dan perasaan saat mengetahui orang yang paling genius di antara kita, sahabat seperjuangan sekaligus guru yang luar biasa pintarnya, orang yang secara tak langsung menjadi alasan kita untuk bertahan dan meraih cita-cita kita, orang yang selalu menjaga api semangat kita, berakhir di sebuah bedeng tua, kelelahan melawan kerasnya kehidupan yang mungkin saja berlaku tidak adil padanya. Dilihat dari sudut mana pun, susah untuk mengatakan bahwa hidup telah adil kepadanya. Tak ada yang lebih menyakitkan saat kita tahu bahwa ia pun meronta-ronta meminta untuk dilepaskan dari keadaan yang menyiksanya. Sungguh menyiksa.

Lintang, seorang tokoh sentral yang tidak saja menjadi semangat buat Ikal, tapi buatku juga.
Perjuangannya, Kegeniusannya, Kerendahan hatinya, Persahabatannya, dan semua kesempurnaan yang ada padanya, secara tidak langsung menjadi pedomanku dalam menjalankan hidup ini.
Membaca kisahnya, menyelami butiran kehidupannya, merenungi nasibnya, tanpa sepatah kata pun yang mampu terucap, hanya genangan di mata saja yang bisa merefleksikannya, menjadi cerminan betapa jatuh cintanya aku kepada tokoh Om Andrea Hirata yang bernama Lintang ini.

Dari kisah ini aku belajar bahwa, kegeniusan itu di mana pun ia ditempatkan, ia akan tetap menjadi kegeniusan.
Kegeniusan itu tercipta bukan untuk mengintimidasi yang lainnya, tapi untuk menyelamatkan.
Bukan kejamnya nasib yang bisa mematahkan semangat belajar kita, ia mungkin bisa merenggut cita-cita, tapi tak akan pernah merenggut semangat belajar yang kita miliki. Semangat memintarkan diri kita hanya bisa patah jika kita sendiri yang mematahkannya, bukan kejamnya nasib.
Semangat dan mimpi itu harus tetap kita jaga, karna dari sanalah kehidupan kita memiliki artinya. Karna seperti halnya mimpi dalam bunga tidur kita yang selalu berusaha menemui paginya, dari sanalah kita selalu berusaha terjaga untuk mencari sang mentari.


~~~~
@aarinarin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar