Kamis, 19 Maret 2015

Tanam Sekarang, Tuai Kemudian Hari

Hidup adalah sebuah proses.
Sebuah proses memerlukan waktu.
Waktu untuk membuahkan hasil.
Hasil yang sempurna butuh kerja keras.
Kerja keras harus dibarengi dengan ketekunan.
Ketekunan harus ditemani dengan kesabaran.
Kesabaran harus didasari dari niat yang kuat.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa hidup itu pondasinya adalah niat.

~~~

Halo guys. Sudah bulan ke-3 di 2015. Bagaimana segala angan-angan resolusi yg dibuat di awal tahun kemarin? Sudah ada yg menjalaninya kah? Semoga berhasil ^^.

Sudah berapa paruh waktu yg kita jalani? Sudah berapa benih-benih sukses yg kita tanam? Sudah bisa kah kita petik benih itu sekarang? Atau justru benih itu masih kita simpan? Atau malahan benih sukses itu belum kita temukan sekarang?
Terlambat?
Mungkin iya.

Pohon yang kita tanam di depan rumah itu perlu waktu untuk tumbuh dan berkembang. Perlu waktu untuk tumbuh rindang. Perlu waktu untuk kemudian bisa berdiri kokoh dengan akar-akar tunjang yang mencengkram tanah dengan kuat.
Berapa lama?
1 hari? 1 minggu? 2 bulan? 3 tahun? 1 windu? 2 dasawarsa?

Sesuatu yg sempurna butuh proses panjang. Minyak bumi yg kita nikmati sekarang merupakan hasil dr fosil-fosil ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.
Dunia yg kita lihat sekarang tidak berkembang dalam satu malam.
Manusia yg indah saat ini tidak terjadi akibat dr 1 evolusi.
Karena hidup adalah sebuah proses. Waktu memegang peranan penting dari sebuah proses itu.

Sesuatu yg kita tanam sekarang, mungkin baru bisa tumbuh sempurna beberapa tahun lagi. Bergantung pada seberapa keseriusan kita dalam menjaga dan merawat benih itu.

Pernah saya mendengar kalimat dari seorang. Penulis bernama Tere Liye, dan izinkanlah saya untuk mengutip kalimat tersebut. Semoga saya tidak salah, beliau mengatakan bahwa, waktu yang tepat untuk menanam benih adalah 20 tahun yg lalu. Agar benih itu bisa kita petik sekarang.

Berapa usia kita sekarang? Saya pribadi akan menjawab 18 tahun. Butuh waktu 2 tahun lagi -paling cepat- untuk saya bisa memetik benih yg saya tanam. Namun, permasalahan itu muncul. Benih apa yg sudah saya tanam 18 tahun lalu? Benih apa yg sudah saya rawat dan saya jaga selama 18 tahun itu?
Sulit bagi saya untuk memecahkan permasalahan tersebut.

Terlambat?
Mungkin.

Pernah kita mendengar bahwa, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Maka, kemudian kita memilih opsi kedua. Terlambat tidak mengapa drpd tidak melakukan sama sekali.
Terkadang kita lupa, bahwa waktu memiliki batas terhadap seseorang. Ketika ia sudah lelah menguntai detik demi detiknya, maka ia akan pergi, dan mungkin tak akan kembali. Kesempatan kedua mungkin diberikan. Tapi, hanya kepada orang-orang yg bersungguh-sungguh menggunakannya. Bukan kepada, oknum-oknum yg memanfaatkan keterlambatan itu untuk berlindung dibalik tameng lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Maka ketika waktu sudah mulai lelah, hanya ada satu penyelamat sekaligus penyemangat sang waktu untuk tetap bertahan.
NIAT.
Karena hidup berawal dan berdasar pada niat. Hanya niat yg kuat dan tulus lah yg bisa mengalahkan supremasi sang waktu.

Terlambat?
Mungkin iya. Tapi tak mengapa jika niat yg kita miliki jauh lebih kuat dan jauh lebih banyak dari waktu yg mungkin kita miliki. Karena dari niat yg kuat lah, kesabaran dan ketekunan akan menemukan kepercayaan dirinya. Yg kemudian karenanya, kerja keras menghadapi tantangan dan rintangan hanya lah bumbu penyedap dari proses tersebut. Hanya tinggal menunggu sang waktu bertindak memainkan perannya, kapan kerja keras tersebut akan menciptakan hasil yg sempurna dari proses panjang yang kita lalui.

Maka, hidup lah dengan niat yang kuat. Semakin kuat pondasi suatu bangunan, akan semakin kuat pula bangunan itu. Demikian pula halnya dengan kehidupan.

~~~

Salam,
@aarinarin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar