Pernahkan kau merasa ingin berhenti namun, selalu ada hal yang menarikmu untuk tetap berjalan dan maju?
Pernahkah kau merasa ingin menjauh, namun selalu ada hal yang mendekatkanmu?
Itulah takdir.
Ia bekerja secara kontradiktif.
Saat otak meminta untuk berhenti dan hati selalu berkata menjauh, namun akan selalu ada kekuatan gaib yang menarikmu kembali untuk terus berjalan di jalan yang telah ditentukan-Nya.
Seberapa kuat pun kau menentang takdirmu, ia tak akan pernah terkalahkan.
Perlawananmu kepada takdirmu, hanya akan mengarahkanmu kepada satu jawaban bahwa ia adalah Takdir. Tak akan mampu kau tentang, apalagi menang.
Jika pernah mendengar kata bijak yang mengatakan bahwa sebelum terlahir ke dunia ini ada perjanjian yang kita lakukan dengan Sang Pencipta, apabila setuju maka lahirlah seonggok daging itu ke dunia yang penuh dengan cerita, warna, bahagia, bahkan derita. Jika perjanjian yang kita lakukan itu adalah takdir, bagaimana mungkin kita sanggup mengingkarinya?
Mengingkari janji kepada Tuhan tidak semudah melakukan wanprestasi (ingkar janji) seperti di dalam konsep keperdataan. Hanya dengan tidak menjalankan perjanjian itu, atau melaksanakan perjanjian sebagian, atau melaksanakan perjanjian melewati batas waktu yang diperjanjikan, atau melaksanakan namun apa yang dilaksanakan tidak sesuai dengan yang diperjanjikan, maka kita dapat dengan mudah melaksanakan wanprestasi.
Namun, perjanjian dengan Tuhan tidaklah sesederhana itu. Seberapa kuat pun keinginan kita untuk melakukan wanprestasi, maka semakin kuat juga lah keajaiban itu menjaga dan melindungi kita.
Lalu, bagaimana dengan sang Nasib? Apa perannya jika Takdir telah mengambil-alih segala tanggung jawab dalam hidup seseorang?
Tidakkah konsep Nasib ini hanyalah sebuah kamuflase? Jika tak ada satu pun yang terjadi di dunia ini tanpa sepengetahuan Sang Khalik bahkan jatuhnya sehelai daun pun atas kuasanya, lalu bagaimana Takdir dari sang Nasib ini? Apakah Nasib dari seseorang juga sudah ditakdirkan? Bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mau berubah? Lalu, apabila sudah berupaya merubah namun tidak terjadi perubahan, apakah itu takdir? Lalu, apabila seseorang itu takut untuk melakukan perubahan Nasibnya, apakah bisa hal ini disebut takdir?
Ah, agaknya banyak sekali pertanyaan yang lahir dari tulisan ini.
Jika, Nasib telah berupaya melakukan perubahan, namun ada hal yang tetap menghendaki sang Nasib bertahan dan melangkah maju, maka bisakah secara definitif kunyatakan ia adalah takdir?
~~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar