Baru kali ini kulihat bintang bersinar dengan terang dan jernih.
-Atau mungkin ada baiknya untuk kukoreksi (bukan untuk menganulir) perkataanku.
Malam ini 21 Juli 2015 tepatnya, mataku tak sengaja menatap gemintang di langit sana. Sungguh jernih, seakan tak ada kabut atau asap yang menghalanginya. Berada di bawah langitnya seakan berada di hamparan milky way. Baru kali ini kulihat lagi hamparan gemintang sejernih itu. Setelah mungkin beberapa tahun lalu waktu aku terakhir kali melihat hal serupa.
Kala itu, global warming hanyalah kata asing bagi telinga kecilku. Rinai hujan masih betebaran di langit september hingga awal Februari. Dan tebaran asap masih menggantung di langit Februari hingga September. Bukan seperti saat ini, yang panas dan hujan datang silih berganti. Bertamu dan pergi sesuka hati. Tak ada jejak tak ada ciri.
Dari kecil aku memang suka menatap langit. Duduk, berdiri, bahkan baring di bawah hamparan bintang. Sinarnya terang, jernih. Persis seperti yang kulihat malam ini. Aku menikmati bintang, menyukainya, dan mengagumi-Nya.
Malam adalah satu-satunya waktu untukku menikmati hobi yang murah meriah itu.
Hanya gelap yang menjadi perantaraku untuk mampu memuaskan keinginanku, menghapus dahagaku.
Sebuah kalimat terngiang-ngiang di otakku. "Karena gelaplah bintang mampu bersinar dengan terang". Ntah darimana kalimat itu meluncur dan menari-nari dipikiranku.
Kala itu posisiku, di tengah pepohonan. Mungkin tidak sopan rasanya untuk mengatakan hutan. Sinar malam hanyalah berasal dari bintang. Lampu jalan dan rumah penduduk ibaratnya hanya sebagai ekstra dalam drama ini.
Aku tahu, kalimat ku itu menyalahi aturan ilmu pasti yang sejak SD sudah diajarkan oleh para guru, bahwa bintang memiliki cahayanya sendiri. Karena bintang adalah benda langit yang memancarkan cahayanya sendiri. Ia tak perlu bantuan eksternal untuk bersinar terang.
Ah, dengan segera kurevisi kalimat ku. Bahwa, "Bintang butuh gelap untuk dapat terlihat terang". Semakin gelap maka bintang akan semakin terlihat terang. Seperti malam ini. Penerangan yang minim justru membuat bintang gemintang semakin cantik dan gagah. Di mana di bawahnya aku terpaku, terpana, dan terpukau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar